Friday, October 10, 2008

Telkomsel Kawinkan GSM dengan Wimax

Operator Telkomsel coba mengawinkan teknologi pita lebar Wimax dengan teknologi seluler Global Satellite for Mobile Communication (GSM) berbasis protokol Internet (IP).

VP Technology & Business Incubation Telkomsel, Yoseph Garo, beranggapan dengan penyatuan teknologi ini bisa menghemat biaya pembangunan jaringan hingga 90% jika dibandingkan menggunakan transmisi pemancar base station (BTS) biasa.

"Jika menggunakan BTS biasa dibutuhkan dana satu miliar rupiah. Sementara dengan penggabungan dua teknologi ini dana yang diperlukan tak sampai seratus juta rupiah," ujarnya di sela uji coba sinyal Telkomsel di sepanjang jalur mudik Jakarta-Lampung, Selasa hingga Rabu (17/9/2008).

Wimax yang tengah diuji coba Telkomsel, kata Yoseph, akan dipergunakan sebagai transmisi sinyal (backhaul) antara jaringan inti (core network) dengan pemancar Femto BTS point to multipoint. "Kami tak akan mengomersialkan Wimax. Sebab, kami telah memilih LTE (Long Term Evolution). Kami menggunakan teknologi Wimax ini untuk backhaul saja," ujarnya.

Telkomsel menggunakan frekuensi 5,8 GHz untuk menguji coba teknologi Wimax tersebut. Karena tak punya izin lisensi, operator ini mengklaim meminjam perangkat dan izin penggunaan frekuensi dari penyelenggara lain. Namun, sayangnya Yoseph enggan menyebut nama provider yang dimaksud.

Uji coba teknologi ini merupakan bagian dari program Telkomsel Merah Putih untuk mengembangkan jaringan hingga ke pelosok mulai dari daratan hingga lautan, sebagai bagian dari strategi operator tersebut menjadi pemimpin pasar.

Program yang menelan investasi sebesar Rp 50 miliar itu membidik 3.000 desa di seluruh Indonesia tahun ini. Saat ini Telkomsel masih menentukan desa-desa mana yang akan dilayani.

'Adanya LTE Bukan Berarti Mematikan WiMAX'

Jakarta - Kehadiran teknologi Long Term Evolution (LTE) untuk menjadi teknologi mobile generasi mendatang tak berarti bakal mengancam perkembangan teknologi WiMAX yang sudah lebih dulu dikenal. Dua teknologi ini bahkan sudah bisa diakomodasi oleh regulator.

Demikian penilaian Iman Hirawadi, Senior Manager Technical Business Development Wireless Networks ALcatel-Lucent Indonesia kepada sejumlah wartawan, di sela-sela buka puasa bersama Alcatel-Lucent di Penang Bistro Oakward Residence, Jakarta, Jumat petang (12/9/2008).

Iman mengatakan, dari sisi desain, LTE dan WiMAX berasal dari market yang berbeda, sehingga keberadaan kedua teknologi ini secara bersamaan tak perlu dikhawatirkan bakal mengancam satu sama lain. Pun demikian, ia melihat LTE lah yang akan menjadi sebuah evolusi bagi para operator wireless.

"Sebab, LTE bisa digunakan di wilayah yang rural ataupun hot zone. Dan meskipun LTE lebih dikenal sebagai data centry tapi bukan berarti tak bisa dipakai untuk layanan voice. Bahkan ke depannya layanan voice akan semakin murah dengan LTE," tutur Iman.

Selain itu, dilanjutkan Iman, LTE bisa diimplementasikan bagi para operator berbasis GSM ataupun CDMA. Ia mencontohkan, operator Verizon di Amerika Serikat yang menggusung CDMA dan NTT Docomo di Jepang yang berbasis GSM, keduanya telah mengarah ke LTE.

Namun begitu harus diakui bahwa pesona WiMax sudah kadung lebih dulu muncul ketimbang LTE, sehingga ketersediaannya menjadi lebih cepat. "Kalau WiMax mungkin sekarang sudah available tapi LTE mungkin 1-2 tahun lagi," imbuhnya.

Apa itu LTE?

LTE didefinisikan dalam standar 3GPP (Third Generation Partnership Project) Release 8 dan juga merupakan evolusi teknologi 1xEV-DO sebagai bagian dari roadmap standar 3GPP2. Teknologi ini diklaim dirancang untuk menyediakan efisiensi spektrum yang lebih baik, peningkatan kapasitas radio, latency dan biaya operasional yang rendah bagi operator serta layanan mobile broadband kualitas tinggi untuk para pengguna.

Perubahan siginifikan dibandingkan standar sebelumnya meliputi 3 hal utama, yaitu air interface, jaringan radio serta jaringan core. Di masa mendatang, pengguna dijanjikan akan dapat melakukan download dan upload video high definition dan konten-konten media lainnya, mengakses e-mail dengan attachment besar serta bergabung dalam video conference dimanapun dan kapanpun.

LTE juga secara dramatis menambah kemampuan jaringan untuk mengoperasikan fitur Multimedia Broadcast Multicast Service (MBMS), bagian dari 3GPP Release 6, dimana kemampuan yang ditawarkan dapat sebanding dengan DVB-H dan WiMAX

LTE dapat beroperasi pada salah satu pita spektrum seluler yang telah dialokasikan yang termasuk dalam standar IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900, 2100 MHz) maupun pada pita spektrum yang baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

Tuesday, May 20, 2008

Intel-Indosat Mau Susupi Wimax ke Sekolah

Intel dan Indosat M2 berkolaborasi menawarkan program pengadaan komputer beserta koneksi internet nirkabelnya di sekolah-sekolah. Program itu nantinya jadi cikal-bakal untuk membidik peluang Wimax di sekolah.

Hal itu diakui Business Development Manager Intel Indonesia, Yadi Karyadi. "(Program) ini memang pondasinya. Begitu, ekosistem di sekolah sudah terbentuk dan regulasinya sudah bergulir, kita akan masukan Wimax di sekolah," ungkapnya di sela penandatangan kerjasama Intel dan Indosat M2 di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Jumat (16/5/208).

"Tapi sekali lagi, itu dengan asumsi regulasinya (broadband wireless access atau BWA) sudah jalan," tegasnya lagi.

Intel dan Indosat M2 menyepakati perjanjian untuk menggelar proyek pengadaan komputer dan koneksi internet nirkabel di sekolah-sekolah. Penandatanganan kerjasama tersebut disaksikan Chairman Intel Corp Craig R Barret.

Perjanjian tersebut bertujuan untuk memberi kesempatan pada pihak sekolah untuk memiliki komputer berbasis prosesor Intel dan koneksi internet pita lebar 3,5G dari Indosat M2 dengan harga yang lebih rendah dari pasaran.

"Ada tiga pilar yang difokuskan untuk pengembangan proyek ini, di antaranya hardware, konten, dan connectivity. Kami di sini bekerja sama dengan Intel untuk pengadaan connectivity dengan menyediakan akses broadband wireless," Dirut Indosat M2 Indar Atmanto menjelaskan.

"Program ini targetnya bisa berjalan tiga tahun di sepuluh kota. Di tahap awal akan kami adakan pilot project selama tiga bulan di tiga sekolah untuk mencari metode yang tepat, meliputi proses training, konten, penerepan metode yang menarik untuk siswa, dan infrastruktur lainnya" ujarnya lagi.

Ia menyebutkan, ketiga sekolah yang terpilih untuk dijadikan proyek percontohan ialah SMU Lab School, SMUK Penabur, dan SMU Al Azhar. Ketiganya berada di Jakarta.

Soal WiMax, Pemerintah Lakukan Audit

Pemerintah tengah mengaudit kesiapan industri lokal untuk memproduksi perangkat jaringan Wimax secara massal. Sebab, tender lisensi BWA akan digelar dalam waktu dekat. Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar memastikan tender broadband wireless access (BWA) akan bergulir sebelum akhir tahun 2008.

"Saya harap di kuartal keempat tahun ini tender sudah bisa dijalankan," ujarnya di sela kesempatan acara Indonesia Berprestasi Award XL di Museum Gajah, Jakarta, Senin (19/5/2008).

"Namun, sebelumnya kami harus memastikan terlebih dulu kesiapan lokal untuk menyediakan perangkat karena nantinya Wimax akan digunakan secara massal," jelasnya lebih lanjut.

Penyedia teknologi Wimax lokal yang dimaksud dirjen, antara lain: Technology Research Group, Hariff, dan PT INTI.

Basuki pun menjelaskan, tender BWA untuk Wimax nantinya akan digelar berdasarkan regional, di mana dari 90 MHz yang tersedia di pita 2,3 GHz akan dibagi untuk 17 wilayah.

Pemerintah pun berbaik hati mau meminjamkan frekuensi di rentang itu untuk diujicoba oleh peminat Wimax BWA. "Sejauh ini sudah ada tiga operator besar yang meminjam frekuensi tersebut secara terbatas untuk sekadar trial," tandasnya. ( rou / ash )

WiMax ya WiMax, Tarif Internet Bisa Turun ?

Dirjen Postel Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar memandang Wimax hanya sekadar perangat teknologi saja untuk mengalirkan internet ke pelanggan akhir.  Yang menjadi agenda utama untuk meningkatkan penetrasi internet, menurutnya, tetap skema pembangunan infrastruktur backbone internasional.

"Wimax itu hanya teknologinya saja, tetap yang kami upayakan itu penurunan tarif internet dengan mengupayakan infrastruktur backbone internasional," ujarnya di sela kesempatan acara Indonesia Berprestasi Award XL di Museum Gajah, Jakarta, Senin (19/5/2008).

Dengan terpilihnya Bakrie Telecom sebagai penyelenggara baru sambungan langsung internasional (SLI) untuk clear channel, maka artinya, Indonesia kini telah memiliki tiga operator yang memiliki backbone internasional, selain PT Telkom dan PT Indosat.

Dengan bertambahnya backbone internasional, diharapkan mampu menurunkan tarif internet secara signifikan. Sebab, kata Basuki, backbone internasional memiliki kontribusi 40% dalam struktur penarifan internet di Tanah Air.

"Saya belum menghitung berapa penurunannya jika nantinya kita bisa memenuhi kebutuhan sambungan internet internasioanl melalui backbone internasional. Tapi pastinya penurunan akan signifikan," tandasnya.

Sebelumnya, Asoasiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan biaya sambungan untuk koneksi internet internasional per 1 Mbps seharga US$ 2000. Padahal tarif yang ideal untuk backbone internasional, menurut asosiasi itu, sebesar US$ 800.

Di lain pihak, penurunan tarif internet dipastikan akan memicu peningkatan bisnis internet di Indonesia.

Presdir Indosat M2 Indar Atmanto sebelumnya memprediksi, dengan angka 2,5 juta yang terdaftar berlangganan internet saat ini saja, potensi bisnis yang bisa dihasilkan sebesar Rp 2,5 triliun.

Itu pun, kata dia, sekadar asumsi paling kecil saja dengan ARPU (rata-rata belanja pelanggan per bulan) sebesar Rp 100 ribu. Potensi bisnis internet pun bisa melonjak karena angka penggunanya saat ini bisa 10 kali lipat dari yang terdaftar atau 25 juta pengguna. ( rou / ash )

Friday, March 21, 2008

Intel researchers stretch Wi-Fi to cover 60 miles

Intel recently demonstrated a modified 802.11 radio link with a data rate of around 6 Mbps and a range of more than 60 miles.

Intel achieved this extraordinary range using off-the-shelf hardware, including parabolic antennas, for its project, dubbed the rural connectivity platform (RCP). The key innovation was a change, borrowed from cellular networks, to the underlying 802.11 media-access-control layer that allowed for a more efficient signal, and translates into longer reach.

RCP is one of several research projects intended to extend the Internet into rural areas, especially in developing countries. The idea is to use low-cost, low-power Wi-Fi radios to bridge between wired Internet connections in a city and wired and wireless connections in small, rural villages. RCP's unprecedented range minimizes the need for lots of wireless nodes to span those distances.

Motorola trials Mobile WiMAX in Thailand with UIH

Equipment vendor touts Thai presence at WiMAX World Asia conference

WiMAX World Asia is taking place in Bangkok, Thailand this week. Motorola took that opportunity to announce that the company has a Thailand trial underway with United Information Highway Company Limited (UIH).

The National Telecommunications Commission (NTC), Thailand's regulator, provided a trial license to UIH for WiMAX last year. The operator has conducted trials in Bangkok and Phuket since then to test mobile WiMAX. Both cities are targeted as candidates for new broadband services to corporate users and travelers.

"The Internet penetration rate is currently around 15% in Thailand, and we believe there is huge potential to market affordable broadband services to consumers and corporate users," said Vichai Bencharongkul, president of Benchachinda Holding Company Limited and executive committee chairman of UIH.

Thailand operators including ShinSat, True Corp and TOT started WiMAX experiments last August. The service providers already have spectrum suitable for WiMAX between 2.4 and 3.5 GHz. ShinSat occupies the 3.5 GHz spectrum, True's pay-TV operator UBC True has 2.5 GHz allocations, and TOT is working in the 2.4 GHz band.

Another WiMAX equipment vendor showing interest in the Thailand market is South Korea's POSDATA. Fresh off its win with Mobile WiMAX in Venezuela, the company is providing a bus tour for a mobile WiMAX service experience via a live system in the vicinity of the Bangkok Convention Center. The bus is demonstrating a variety of potential services, such as video telephony, real-time video and audio streaming and web searches. "The Thai government plans to offer commercial services starting next year in the frequency bands of 2.3GHz and 2.5GHz," said Shin Joon-il, executive vice president of POSDATA. The company declined to comment on the current Thailand operator who is trialing with POSDATA in Bangkok