Friday, March 21, 2008

Intel researchers stretch Wi-Fi to cover 60 miles

Intel recently demonstrated a modified 802.11 radio link with a data rate of around 6 Mbps and a range of more than 60 miles.

Intel achieved this extraordinary range using off-the-shelf hardware, including parabolic antennas, for its project, dubbed the rural connectivity platform (RCP). The key innovation was a change, borrowed from cellular networks, to the underlying 802.11 media-access-control layer that allowed for a more efficient signal, and translates into longer reach.

RCP is one of several research projects intended to extend the Internet into rural areas, especially in developing countries. The idea is to use low-cost, low-power Wi-Fi radios to bridge between wired Internet connections in a city and wired and wireless connections in small, rural villages. RCP's unprecedented range minimizes the need for lots of wireless nodes to span those distances.

Motorola trials Mobile WiMAX in Thailand with UIH

Equipment vendor touts Thai presence at WiMAX World Asia conference

WiMAX World Asia is taking place in Bangkok, Thailand this week. Motorola took that opportunity to announce that the company has a Thailand trial underway with United Information Highway Company Limited (UIH).

The National Telecommunications Commission (NTC), Thailand's regulator, provided a trial license to UIH for WiMAX last year. The operator has conducted trials in Bangkok and Phuket since then to test mobile WiMAX. Both cities are targeted as candidates for new broadband services to corporate users and travelers.

"The Internet penetration rate is currently around 15% in Thailand, and we believe there is huge potential to market affordable broadband services to consumers and corporate users," said Vichai Bencharongkul, president of Benchachinda Holding Company Limited and executive committee chairman of UIH.

Thailand operators including ShinSat, True Corp and TOT started WiMAX experiments last August. The service providers already have spectrum suitable for WiMAX between 2.4 and 3.5 GHz. ShinSat occupies the 3.5 GHz spectrum, True's pay-TV operator UBC True has 2.5 GHz allocations, and TOT is working in the 2.4 GHz band.

Another WiMAX equipment vendor showing interest in the Thailand market is South Korea's POSDATA. Fresh off its win with Mobile WiMAX in Venezuela, the company is providing a bus tour for a mobile WiMAX service experience via a live system in the vicinity of the Bangkok Convention Center. The bus is demonstrating a variety of potential services, such as video telephony, real-time video and audio streaming and web searches. "The Thai government plans to offer commercial services starting next year in the frequency bands of 2.3GHz and 2.5GHz," said Shin Joon-il, executive vice president of POSDATA. The company declined to comment on the current Thailand operator who is trialing with POSDATA in Bangkok

Tuesday, February 5, 2008

Cisco Tunggu Pemerintah 'Buka Pintu' untuk Wimax

Pemerintah tengah giat-giatnya mempersiapkan pengembangan Wimax lokal. Meski demikian, pelaku industri asing malah sudah siap untuk memasarkan perangkat Wimax-nya. Mereka tinggal menunggu pemerintah 'buka pintu'.

Salah satunya perusahaan tersebut adalah Cisco Systems, yang baru saja mengakuisisi perusahaan penyedia perangkat Wimax asal Amerika Serikat Navini pada 2007 lalu.

Irfan Setiaputera, managing Director Cisco Systems Indonesia mengatakan, perangkat Wimax dari perusahaannya telah siap untuk diperkenalkan di Indonesia. "Jadi kalau sekarang ini ada aktivitas untuk Wimax, Cisco bisa ikutan," ujarnya, kepada beberapa wartawan di sela konferensi pers 'Cisco Telco Summit 2008' di Hotel ShangriLa Jakarta, Selasa (5/2/2008).

Namun itu semua, lanjut Irfan, kembali lagi tinggal menunggu pintu dari pemerintah. "Persoalannya kan sekarang pemerintah itu mau mengeluarkan tender ke siapa?. Pasti kan bukan ke kita, paling ke operator. Nah kalau gitu, berarti kita jual ke operator tersebut," tukasnya.

Saat ini, perangkat Wimax besutan Navini diklaim telah berhasil diimplementasikan di beberapa negara. Sementara untuk di tanah air, Irfan menandaskan, dalam waktu dekat bakal coba didatangi produk demo-nya.

Wimax Lokal Siap Unjuk Gigi di Hadapan Presiden

Perangkat Wimax buatan lokal yang dibesut Technology Research Group siap unjuk gigi di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Hari Kebangkitan Nasional.

Technology Research Group merupakan unit bisnis dari PT Solusindo Kreasi Pratama, atau lebih dikenal sebagai penyedia jasa penyewaan menara telekomunikasi Indonesian Tower.

Sakti Wahyu Trenggono, pemilik perusahaan tersebut mengungkapkan, pihaknya akan melakukan soft launch perangkat Wimax besutannya pada Maret 2008 ini sebagai ajang ujicoba bagi para operator telekomunikasi di Indonesia.

"Baru kemudian pada bulan Mei, atau bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, perangkat ini akan langsung kami perkenalkan ke masyarakat, termasuk kepada presiden," ujarnya di sela acara Indonesia ICT Outlook 2008, di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (31/1/2008).

Menurut Trenggono, begitu ia akrab disapa, hampir seluruh komponen Wimax besutannya diproduksi secara lokal. Saat ini, pihaknya telah memproduksi 300 unit perangkat jaringan nirkabel pita lebar tersebut.

"Perangkat kami memiliki kandungan lokal hampir 100% karena riset dan pengembangan untuk software dan desain chipset-nya kami kerjakan di Indonesia. Namun, minimnya manufaktur di sini membuat proses produksi harus kami serahkan ke luar negeri," jelasnya.

Ia pun berharap, dengan upayanya menggiatkan produksi lokal di sektor Wimax, bisa membuat semua pihak sadar dan mendukung industri dalam negeri. Pun, ia optimistis, Indonesia bisa sebesar China dalam industri manufaktur jika mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah serta para pelaku industri dan pengguna.

"Kalau orang kita sendiri saja tidak percaya dengan kemampuannya. Bagaimana orang lain mau percaya sama kita," demikian Trenggono berpendapat.

Malaysia Tertarik Wimax Indonesia

Malaysia dikabarkan tertarik untuk menggunakan perangkat Wimax besutan anak Indonesia. Bahkan, minat untuk membeli perangkat jaringan nirkabel pita lebar itu pun telah disampaikan.

Demikian diungkap Direktur Utama PT Solusindo Kreasi Pratama, Sakti Wahyu Trenggono. Ia mengaku, salah satu unit bisnisnya yang mengembangkan perangkat Wimax telah ditawari kerjasama oleh vendor telekomunikasi asal Malaysia, yakni Mercury Infocast.

"Infocast tertarik untuk membeli perangkat Wimax buatan kami setelah mencobanya. Adapun perangkat tersebut seperti unit base stations, antenna, dan CPE yang dikembangkan salah unit bisnis kami, yakni Technology Research Group (TRG)," jelasnya ketika ditemui wartawan dalam acara Indonesia ICT Outlook 2008, di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (31/1/2008).

Dalam keterangan pers di situs resmi Infocast, perusahaan asal Malaysia itu mengklaim akan menjadi penyedia solusi Wimax pertama di dunia untuk frekuensi 2,3 GHz jika berhasil meyakinkan TRG untuk menjual perangkatnya pada mereka.

Trenggono mengatakan, pihaknya juga mengembangkan beberapa perangkat Wimax seperti solusi hardware, RF section, billing system, dan network management system yang berbasis pada Radius Authentication server dan memiliki kemampuan teknis, instalasi dan maintenance.

"Sistem tersebut memenuhi standar spesifikasi Wimax 802.16-2004 (16d) dan teknologinya mengacu pada teknologi yang dimiliki oleh Wavesat dari Kanada," klaim dia.

Postel Impikan Indonesia Ekspor Wimax

Direktorat Pos dan Telekomunikasi (Postel) memimpikan Indonesia menjadi negara yang bisa mengekspor perangkat Wimax. Sebuah unit khusus pun dirancang.

Hal itu dikemukakan Dirjen Postel, Basuki Yusuf Iskandar, seusai serah terima alat ukur telekomunikasi Wimax di Gedung Postel, Jakarta, Selasa (29/1/2008). Perangkat yang saat ini sedang dikembangkan, ujar Basuki, akan didemonstrasikan pada Mei 2008.

Selain untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur telekomunikasi lokal, Basuki mengatakan pemerintah berharap Indonesia bisa mengekspor perangkat tersebut. Untuk itu, Postel berencana membuat sebuah unit khusus untuk membantu operator dan industri merambah pasar global.

Unit tersebut, ujar Basuki, saat ini sedang digarap dan menunggu persetujuan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN). Sebelumnya Postel juga telah mendapatkan persetujan Kementerian PAN untuk unit khusus satelit.

Sedangkan di sisi penyerapannya oleh industri lokal, Basuki mengatakan akan mewajibkan operator Wimax untuk menggunakan industri lokal. "Minimal akan seperti pada penyelenggara 3G, yaitu 35 persen Capex (belanja modal-red) untuk lokal dan 50 persen Opex (biaya operasional-red) untuk lokal," Basuki menjelaskan. ( wsh / wsh )

Untuk Apa Saja Dana Wimax Lokal Rp 18 M?

Direktur Standardisasi Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Azhar Hasyim mengatakan sejak tahun 2007 pemerintah telah mengalokasikan Rp 16 miliar untuk pengembangan industri manufaktur dalam negeri. Dana yang terserap adalah Rp 14 miliar sedangkan Rp 2 miliar untuk pembelian perangkat alat ukur Wimax.

Demikian dikemukakannya seusai serah terima alat ukur telekomunikasi Wimax di Gedung Postel, Jakarta, Selasa (29/1/2008). Dana yang Rp 18 miliar untuk 2008, ujar Azhar, memiliki dua alokasi umum. Pertama, sebanyak Rp 8 miliar akan digunakan untuk membeli perangkat alat ukur, chipset, antena, serta untuk membayar lisensi piranti lunak desain. Sedangkan Rp 10 miliar akan digunakan untuk operasional dan biaya pengembangan.

Pengembang Wimax lokal ini mencakup unsur pemerintah, akademisi dan juga swasta. Di antaranya adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM), Universitas Hasanudin Makassar (Unhas), Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Kementerian Riset dan Teknologi, PT INTI, PT Quasar dan PT Harif.

Azhar mengatakan setiap komponen perangkat Wimax lokal yang berbasis 2,3 GHz ini memiliki koordinator. Untuk pengembangan chipset oleh ITB, pengembangan terminal akhir oleh Ristek melalui BPPT, radio frekuensi baseband oleh LIPI, antena oleh UI, dan sistem operasinya oleh ITB. Dari setiap kelompok tersebut, lanjut Azhar, ada empat puluh peneliti.

Alat ukur telekomunikasi yang akan dibeli adalah dari negara yang paling kompetitif dari segi harga. Beberapa pilihannya adalah Singapura, Taiwan atau Jepang. ( wsh / wsh )